Jum'at, 30 Juli 2010 , 11:34:00
 
TANGGAL 23 Juli lalu Indonesia memperingati Hari Anak Nasional. Tapi kita masih melihat potret buram dunia anak saat ini. Data menyebutkan, sebanyak 12 juta anak putus sekolah (Kompas, 28/4/2009). Sebesar 37 persen anak Indonesia usia 0-5 tahun menderita kekurangan gizi (Tempointeraktif, 27/8/2008). Empat dari seratus anak setiap hari mengalami kekerasan fisik, psikologis, emosional dan ekonomi dari kerabat dekatnya (Suryaonline, 27/7/2009). Belum lagi anak pecandu narkoba, korban trafficking, pelecehan seksual dll.
Bagaimana dengan peran negara yang seharusnya menjadi pengurus rakyat? Di saat anak-anak kita membutuhkan anggaran dan perhatian pemerintah, justru mereka dengan mudahnya mengeluarkan anggaran yang tak memihak pada kepentingan rakyatnya. Kita menunggu langkah nyata dari pemerintah, tidak hanya sebatas seremonial.
Ade Rofikah,
Ciomas Permai, Bogor
Dukung Zikir Akbar
BEBERAPA waktu lalu saya mengirim SMS dan dimuat Radar Bogor. Isinya, imbauan agar panitia Hari Jadi Bogor mengundang Ustad M Arifin Ilham agar mengadakan zikir akbar di Kota Bogor. Namun usulan tersebut tidak digubris. Tapi saya sangat yakin, Allah SWT akan mengabulkan doa saya.
Benar saja, insya Allah pada 7 Agustus, zikir akbar itu hadir di Kota Bogor. Dan acara itu diprakarsai Radar Bogor bersama BAZ Kota Bogor. Terima kasih Radar Bogor, semoga tambah maju dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
Budi S,
Jamaah Zikir Az-zikra,
Bogor, 087870590795
Masak Merawat AC tak Mampu
KETUA Komisi C DPRD Kota Bogor Yus Ruswandi menyetujui anggaran yang diajukan Transpakuan untuk perbaikan 30 unit AC yang rusak parah, dimana besarnya mencapai Rp2,1 miliar. Janji Komisi C itu didasarkan hasil sidak yang dilakukan bersama Dirut Transpakuan Hari Harsono. Kami sebagai warga Bogor bertanya, dikemanakan uang hasil pengoperasian 20 dari 30 unit Transpakuan selama tiga tahun ini? Masak belum memberi kontribusi bagi pemkot. Malah pada 2009 ruginya cukup fantastis, Rp1,6 miliar! Ada apa dengan kepengurusan perusahaan milik daerah tersebut (BUMD)? Ketua Komisi B Budi Sulistio mempertanyakan, mengapa untuk perawatan AC saja tidak mampu. Apa karena ada hal-hal tidak wajar yang terjadi pada kepengurusan BUMD tersebut?
Faisal Bismark,
Bantarjati, Bogor,
081219357007
Kelas Sumpek, Jembatan Licin
SEBAGAI orangtua siswa yang telah membayar uang SPP dan DSP sesuai ketentuan, saya sangat kecewa akan kondisi kelas XI tempat anak saya belajar. Sebab, jumlah siswa di kelas terlalu penuh, yakni 46 orang. Anak saya mengeluh tak bisa mengikuti pelajaran dengan baik karena kelas terasa sumpek dan pengap. Padahal sewaktu di kelas X, anak saya masuk di kelas yang katanya SSN atau SKM, dengan jumlah siswa 32.
Ditambah lagi akses jalan masuk ke sekolah yang tidak punya jembatan permanen. Hanya ada jembatan dari drum serta kayu licin dan sangat berbahaya bagi keselamatan, terutama siswa pengendara motor seperti anak saya. Mohon dinas terkait segera menangani permasalahan tersebut.
Azis M,
Jl Raya Tajur No 12,
Citeureup,
085695692589
Kapan Jalan Diaspal?
JALAN Pangeran Sogiri, Tanahbaru, masih belum diaspal juga. Padahal dekat akses ke Bogor Ring Road. Mohon perhatian dinas terkait.
085691160545
|