Senin, 18 Oktober 2010 , 11:29:00
 
DEPOK - Puluhan orang pendukung salah satu pasangan calon walikota-wakil walikota Depok menyerang kantor Radar Depok (Grup Radar Bogor) di Jalan Kartini, Pancoranmas, Depok, kemarin sekitar pukul 14:25. Massa melempari kantor Radar dengan menggunakan telur busuk dan buah karena tidak puas dengan hasil real count pilkada yang dimuat koran tersebut.
Massa yang diketahui berasal dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bentrok itu dipimpin Rachman Tiro, Fikri, dan Akbar. Mereka menyatakan tidak puas dengan hasil perhitungan cepat yang dimuat Radar Depok edisi Minggu (17/10).
Massa semakin emosi saat diajak berdialog oleh Tegar Bagja, salah seorang redaktur Radar Depok yang menerimanya. Permintaan untuk memenuhi hak jawab juga tak digubris oleh massa. "Radar Depok tidak netral dalam pemilukada (pilkada, red) ini. Jangan macam-macam. Kalian baru di Depok. Tutup nggak kantor ini!" ancam Fikri di hadapan polisi yang membuat barikade di depan kantor Radar Depok.
Provokasi dan pelemparan yang terus dilakukan massa sempat memanaskan suasana. Wakasat Samapta Mapolres Depok AKP Djumadi yang saat itu berada di lokasi, mengajak awak Radar Depok kembali ke kantor. Tak lama berselang, massa kembali beraksi dengan membakar spanduk dan koran Radar Depok di halaman kantor. Tapi itu pun tak berlangsung lama. Hujan yang turun cukup deras selang 30 menit massa beraksi, dengan sendirinya membubarkan aksi tersebut.
Sebelumnya, sekitar pukul 14:00, massa melakukan aksi di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Depok. Mereka menuntut KPU menghentikan penghitungan suara, karena mereka menduga KPU bermain mata dengan salah satu partai pengusung calon walikota. "Saya curiga adanya kecurangan yang terjadi. Dalam pencoblosan lalu (16/10), banyak ditemukan warga yang tidak mendapat undangan untuk memilih," tuding Rachman Tiro.
Dia mendesak KPU untuk melakukan pilkada ulang. Saat di kantor KPU dan Panswaslu, massa juga melempar dengan buah busuk. Khusus di KPU, massa melakukan aksi tidak terpuji dengan sengaja membuang air kecil di pagar kantor penyelenggara pemilu itu. Sementara itu, Redaktur Pelaksana Radar Depok, Abdul Somad, menilai, aksi penyerangan massa kemarin merupakan salah satu risiko yang harus diterima media massa dalam memberikan informasi dan fakta. "Terkait tudingan yang dilayangkan massa, kami sudah memberikan informasi secara utuh kepada publik. Seharusnya bila ada keberatan, tak perlu ada tindakan represif seperti ini," ujar Somad. Terkait langkah hukum selanjutnya, Somad menegaskan, akan membahasnya dengan jajaran direksi. Dia menilai, aksi penyerangan tersebut merupakan bentuk pembelajaran berdemokrasi bagi masyarakat Kota Depok.
"Kami akan membahas dan mempertimbangkannya lebih lanjut dengan pimpinan. Tapi tentunya masalah ini perlu ditindaklanjuti dengan tegas," tandasnya.
RAMAI-RAMAI KECAM PENYERANGAN
Aksi penyerangan yang dilakukan massa LSM Bentrok pimpinan Rachman Tiro, Fikri dan Akbar, terhadap Kantor Harian Pagi Radar Depok di Jalan Raya Kartini, No 14 F, Kecamatan Pancoranmas, berhasil memantik rasa prihatin sejumlah elemen masyarakat. Pasalnya, tindakan tersebut dinilai liar, antidemokrasi dan bertentangan dengan semangat reformasi.
"Itu bukan demo, tapi penyerangan. Karena kalau demonstasi harus ada pemberitahuan ke polisi. Nyatanya tidak," kata Ketua LSM Gerakan Masyarakat untuk Pemilu Bersih (Gempur), Yusuf Trilis kepada Radar Depok, kemarin.
Kendati teman sejawat, Yusuf meminta polisi menindak tegas aksi penyerangan massa ke Kantor Radar Depok. "Untuk itu saya minta polisi harus bertindak tegas dengan menangkap para pelakunya," ujar Yusuf. Mestinya, sambung dia, massa Bentrok sadar kalau keberadaan media adalah salah satu pilar demokrasi yang harus tetap dijaga.
Jadi, dengan munculnya aksi tersebut bisa dianggap perbuatan yang mencederai demokrasi dan bentuk kekarasan terhadap profesi pers.
"Tindakan seperti ini tak boleh dibiarkan, wartawan harus bersatu menyikapinya. Karena bisa saja hal serupa terjadi di media-media lain," tandasnya.
Hal senada dikatakan Sekretaris Koalisi Kerakyatan, Agus Sutondo. Dia mensinyalir aksi tersebut didalangi kandidat yang merasa tak puas dengan hasil Pemilukada Kota Depok.(cr4/cr16/cr3)
|